Gadis di Pantai Terakhir
                          Oleh : Onsi GN

Aku menyayangimu seperti laut merindukan ombak.

Siang mengantarku pada pantai terakhir. Kemanakah aku harus mencari? tanyaku dalam syahdu.
Seribu pantai telah aku lalui, tak ada tanda bahwa kau pernah berpijak. mungkinkah aku yang tak bijak.
Matahari terus berlayar tanpa isyarat membuatku bingung akan langkah yang kian berakhir . Karang-karang terbaring kaku di bawah sampan tua tak bertuan menunggu jumput bibir laut yang katanya pandai mengecup.  sepasang mataku tak sengaja melihat gadis tak bernama berdiri di sudut tanjung yang kian berujung. Siapakah dia? tanyaku sedikit melaut, usik yang mencekik. Dalam ragu bercampur rasa takut, aku mendekati gadis tak bernama itu. jujur saja ini sangat sulit dan tersulit.

'Selamat siang Put. Dengan menyebut nama Put mestinya menjawab sedikit halaman tanya. Pada  yang bernama sedikitnya tak salah
.'Siang juga' . Sahutnya penuh candu.
Boleh aku mengenalmu?( sambil mengatupkan jemari yang kian  desir)

Tanyakan itu pada dia yang berhak atas hidup dan matiku. Jawabnya, seakan kapal bertekuk pada kompas yang bermaut.

Kepada siapa aku harus betanya?  dalam hati aku melukis bisik.
Tanyakan itu pada orang yang paling berharga dalam datang dan pulangmu. Sahutnya kembali dipersingkat.
Apakah waktu mengizinkanku berjumpa dengan orang yang berhak atas dirimu? kembali aku bertanya tanpa berpikir salah atau dosa.
Tentu waktu menjawab apa yang kau inginkan. Tetapi jika kau tak mampu menghargai dia yang berhak atas diriku, maka waktu tak akan mengizinkanmu.  Jawab gadis itu sambil memberi sepotong kertas yang mungkin bekas, Lalu pergi meninggalkanku tanpa tatap dan tanya.

???
 ini??

KAU.

aahh... Ini judul puisi yang pernah aku baca untuknya.
Ternyata wanita itu adalah dia yang sering melukis tangis dalam bait. semoga saja dia sebait dakam doa hari-hariku.

Terima kasih untukmu yang sudah datang di pantai terakhir ini. Kau adalah puisiku yang pernah kutulis dalam lembar-lembar tanya;.

Aku akan menanyakan ini pada orang yang berhak atas dirimu. Akan aku perjuangkan tanpa ditiadakan.
Tunggu aku wahai gadis di pantai terakhir.  Bisik panjang pada jejak gadis itu.

Siang berganti akan rumah menyimpan malam, aku pamit dalam seribu tanda yang belum bisa aku tuliskan dalam bayangnya. melepas tanya akan gadis pecandu tanya tentu memerlukan waktu yang sedikit diragukan dan mungkin lama. Apa yang harus aku lakukan ketika aku bersua kedua orang tuanya? Ini sangatlah sulit. Apa yang harus aku katakan? ahhh... Pikiran sudah menemui ujung semoga saja tak berujung. kepada siapa aku harus mencari jawaban ini? jujur saja semuanya selalu ditanyakan.

Waktu telah tiba tanpa ragu aku jemput dan jumput untuk luput. Tapi jawaban atas pertanyaan itu belum aku temui untuk aku akhiri. ahhhhh aku harus kembali ketempat pertama dalam bersua dengan gadis pecandu tanya itu. Mungkin jawaban-jawaban itu telah memanti di atas pasir bergaun putih itu.

 Akupun melangkah sambil melihat bulan memancar sinarnya pada kelopak suci bumi.

Ini adalah tempat yang dia pijak. aku menyentuh karang itu sambil memperagakan cara gadis itu berdiri. Sedikit gila atau mungkin terlalu menghayati

Aku duduk di karang yang sama itu sambil membayangkan pertanyaan yang belum usai ku jawab. 

Hampir sejam aku mencari jawaban itu, namun detik yang terakhir aku diketuki jawaban yang mungkin bisa membawa aku kepada orang tua atas gadis itu..

mengapa aku harus takut? ini adalah sebuah jalan yang harus dilewati.
Aku harus segera kembali agar aku bisa mempersiapkan semuanya untuk esok aku tumpahkan pada pintu rumahnya. yah sedikit kejam persiapannya.

Malam terus berlayar. Suara jengkrik terus membisik pada dinding tua malam tua.

Pagi kini kembali menjumpai hari baru yang datang dalam restu, aku yang mabuk dalam nama cinta kini bangun dan kembali mempersiapkan seribu tawa pada rumah kedua nanti..

krrrriinggg.....

Halo putri.. Aku sering memanggilnya putri.
Iaa..  Jadikan kerumahku sebentar?? tanya putri.
iaaa Put... Saya sudah di depan pagar rumahmu. Jawabku penuh kejutan.
Adduuhh yang benar saja. Aku senang sekali. tambahnya.
Iaa Put. Saya malu Put.. sedikit aku menjebaknya.( Dan mengetuk pintu rumahnya).
Aduhh jangan malu. Biasa saja anggap rumah sendiri. Ibu dan bapak sudah menunggumu..tambah putri.

Silahkan masuk. hormat putri.
Pagi Put. Terima kasih..  Aduhh kamu cantik sekali hari ini put. sambil berjalan di lorong tengah rumahnya yang tanpa kebisingan sedikitpun.
Kamu bisa saja.. Jawab putri sambil menyembunyikan rasa malu melihatku.

Selamat pagi Bu. Selamat pagi Pak. Santunku bersalaman
Silahkan duduk nak...  Putri mempersilahkanku.

Selamat yan nak. Aku tau maksudmu kemari. Putri juga sudah menceritakan semuanya kepada bapak. Aku sangat bangga dengamu nak. Ayahnya melempar senyum padaku.

Terima kasih bapak. Pada hari yang bersaksi dinding bisu. Aku berjanji untuk membahagiakan putrimu. Kataku sambil memandang putri, ayah dan ibunya.

Bagaimana put. Ibunya bertanya.

Apa yang dikatakan Ayah, dan Ibu pada hari ini, sesuai dengan apa yang kuharapkan selama ini..
Terima kasih Ayah dan Ibu. Putri menangis dan mempersembahkan air mata bahagianya untuk kedua orang taunya.

Nyatanya demikian. Malu dan harus maju untuk menaklukinya..





Oleh : OnsiGN
#Cerpen.Tanya












Komentar

  1. Mantap, bro. Apakah tanda baca misalnya yang digunakan itu punya makna? Ada yg terdapat. .. Begitu.

    BalasHapus
  2. Tanda baca yang digunakan mempunyai makna tersendiri,dan dengan tanda baca sedikit menjelaskan maksud dari fonem.

    BalasHapus
  3. Mantap ee kes♥️
    Enu Indri keta foto'ne😂

    BalasHapus
  4. Mantap e kesa.
    Nihot keta kenal laku ata hot one foto ho'o kesa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah kesa ee.. Jangan fokus fotonya😂

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer