Perihal : Tedon (Rumah Sejarah)
Oleh : Onsi GN
Tedon tidak tercatat dalam buku sejarahmu. Namun, Tedon tercatat dalam sampul sejarahku.
Fajar tanpa lupa menyingsing mengetuk pintu seakan tamu menegur rapuh. Kami dan sepotong hari kini bangun dari mimpi yang tak bertepi untuk berjumpa pagi yang tak bertangkai bagai gambar yang disuap imajinasi. Kami yang sebagian besar berperan sebagai petani, tak pernah meringis walau rupa luka berlapis membius telapak yang terus pijak. Kini saatnya mempersiapkan segala perlengkapan perang kami,
Yah.. perlengkapan perang.
Perang melawan nasib tentunya.
Kami yang dibekali janji untuk hidup tanpa redup tentu harus berselimutkan kerja keras dengan waras tanpa memeras, membuat kami tau akan jalan melumpuhkan peran, untuk nasib dan menegakan angan akan masa depan.
Berawal dari kampung Rajong yang sering diselimuti asap putih (kabut) yang datang menghilangkan jejak para pejuang, membuat kami terus pijak tanpa pupus, tanpa bimbang sebelum semuanya pulang. Untuk sampai di kebun Tedon kami harus menelusuri bukit dan lembah, yang setiap saat menyapa para pejuang. Yang sangat terhibur dalam perjalanan kami adalah mendengar suara kicauan burung yang mungkin tidak asing lagi di telinga kita, menari dan mematahkan bulu sayap perindu tanpa sedikit menyakiti namun banyak yang disakiti.
Sederhana kita berpikir bahwa mereka datang hanya mengiringi dan memberi makna atas langkah kaki para pejuang.
Menghinggapi pohon tua beranting kering tentu suatu yang penting bagi mereka.
Tak terasa kami berpijak pada daun pintu perjuangan kami. Disambut pondok tua tak bernama, yang beratap jerami beralaskan tanah tentu menjadi tempat teduh yang tak diragukan lagi.
Saya merasa nyaman akan tempat ini. Melihat sawah hijau yang mengundang selera pipit yang menari di hamparan lereng, sempat membawa kita pada gelengan panjang tentunya.
"Tempat ini adalah tempat besejarah bagi kita. Dahulu kala, tempat ini adalah sebuah kampung yang sangat besar" dan sekarang telah menjadi tempat untuk kita menacari semangkuk rejeki. sepatutnya generasi kamu harus mengetahui tentang keberadaan tempat bersejarah ini. Tetapi kepada siapa kita bertanya?
Ini menjadi tugas kita tentunya.
Jika tempat ini adalah tempat bersejarah, mengapa para pecinta sejarah tak pernah meneliti atau menggali secara sejarah di tempat ini?? yah agar tempat ini terdeteksi oleh generasi-generasi penerus bangsa ini. Kita boleh menguasai hasil duniawi yang ada. Namun pantaskah kita mendapatinya jika alur-alur sejarah, cerita-cerita sejarah tak satupun kita tahu?
Sedikit haru kami berjalan mengelilingi petak perjuangan, sambil melihat pemandangan di lembah tedon yang melukiskan banyak kisah maupun cerita yang hampir menua. Tedon yang dihiasi aneka cerita tua, setua nama yang kita sebutkan untuknya membawa napas kita pada petak-petak yang sebenarnya. Dalam langkah, kami bersua kenal dengan kakek tua yang sedang membuat penggo ‘perangkap tikus’.
perangkap tikus???? yah.. tikus yang kita kenal tentunya.
Penasaranpun timbul dalam benak rupaku. Ema? penggo do pande pu'u wone apa? agu sama ba cara pande? 'Kek, apa yang menjadi bahan dasar untuk pembuatan perangkap tikus ini'? dan bagaimana cara membuatnya? (aku bertanya). ko bahan gia raza ko nggoes,. puu wone pring, ko pande gia pake sulan.'Bahannya sangat mudah yaitu, dari bila bambu dan prosesnya dianyam'. Itulah kita, lebih memilih menjadi perangkap, daripada menjadi tikusnya. Jangan pernah menjadi tikusny...hhhhh.(Sahut kakek yang bijak dalam imjinasi dan tidakan)
"Pembuatan penggo 'perangkap tikus' ini adalah tradisi yang diwariskan secara turun temurun bagi kita, menyambut akan datangnya panen padi, maupun jagung" (Tambah kakek itu).
Sore tak lupa menyapa, pertanda hari akan malam. Kamipun memilih untuk kembali pada pulang. Dalam perjalanan pulang kami disuguhkan fabel yang begitu menggairahkan selera tanpa sadar rumah mengucap selamat datang. Pertanda kami sudah dalam rahmat-Nya.
"Ceritamu belum kami kenali pada mereka yang belum mengenalimu.
Doa kami, namamu dikenal baik dan menjadi tempat sadaran sejarah untuk kami baringkan jiwamu"
Terima kasih kota sejarah "Tedon"... Tetap menyimpan segala rupa harapan hidup.
Nantikan rupa kami yang hidup dari jendela berupa sejarah !!!
Kupang, 25 Maret 2019
Oleh : Onsi GN
Tedon tidak tercatat dalam buku sejarahmu. Namun, Tedon tercatat dalam sampul sejarahku.
Fajar tanpa lupa menyingsing mengetuk pintu seakan tamu menegur rapuh. Kami dan sepotong hari kini bangun dari mimpi yang tak bertepi untuk berjumpa pagi yang tak bertangkai bagai gambar yang disuap imajinasi. Kami yang sebagian besar berperan sebagai petani, tak pernah meringis walau rupa luka berlapis membius telapak yang terus pijak. Kini saatnya mempersiapkan segala perlengkapan perang kami,
Yah.. perlengkapan perang.
Perang melawan nasib tentunya.
Kami yang dibekali janji untuk hidup tanpa redup tentu harus berselimutkan kerja keras dengan waras tanpa memeras, membuat kami tau akan jalan melumpuhkan peran, untuk nasib dan menegakan angan akan masa depan.
Berawal dari kampung Rajong yang sering diselimuti asap putih (kabut) yang datang menghilangkan jejak para pejuang, membuat kami terus pijak tanpa pupus, tanpa bimbang sebelum semuanya pulang. Untuk sampai di kebun Tedon kami harus menelusuri bukit dan lembah, yang setiap saat menyapa para pejuang. Yang sangat terhibur dalam perjalanan kami adalah mendengar suara kicauan burung yang mungkin tidak asing lagi di telinga kita, menari dan mematahkan bulu sayap perindu tanpa sedikit menyakiti namun banyak yang disakiti.
Sederhana kita berpikir bahwa mereka datang hanya mengiringi dan memberi makna atas langkah kaki para pejuang.
Menghinggapi pohon tua beranting kering tentu suatu yang penting bagi mereka.
Tak terasa kami berpijak pada daun pintu perjuangan kami. Disambut pondok tua tak bernama, yang beratap jerami beralaskan tanah tentu menjadi tempat teduh yang tak diragukan lagi.
Saya merasa nyaman akan tempat ini. Melihat sawah hijau yang mengundang selera pipit yang menari di hamparan lereng, sempat membawa kita pada gelengan panjang tentunya.
"Tempat ini adalah tempat besejarah bagi kita. Dahulu kala, tempat ini adalah sebuah kampung yang sangat besar" dan sekarang telah menjadi tempat untuk kita menacari semangkuk rejeki. sepatutnya generasi kamu harus mengetahui tentang keberadaan tempat bersejarah ini. Tetapi kepada siapa kita bertanya?
Ini menjadi tugas kita tentunya.
Jika tempat ini adalah tempat bersejarah, mengapa para pecinta sejarah tak pernah meneliti atau menggali secara sejarah di tempat ini?? yah agar tempat ini terdeteksi oleh generasi-generasi penerus bangsa ini. Kita boleh menguasai hasil duniawi yang ada. Namun pantaskah kita mendapatinya jika alur-alur sejarah, cerita-cerita sejarah tak satupun kita tahu?
Sedikit haru kami berjalan mengelilingi petak perjuangan, sambil melihat pemandangan di lembah tedon yang melukiskan banyak kisah maupun cerita yang hampir menua. Tedon yang dihiasi aneka cerita tua, setua nama yang kita sebutkan untuknya membawa napas kita pada petak-petak yang sebenarnya. Dalam langkah, kami bersua kenal dengan kakek tua yang sedang membuat penggo ‘perangkap tikus’.
perangkap tikus???? yah.. tikus yang kita kenal tentunya.
Penasaranpun timbul dalam benak rupaku. Ema? penggo do pande pu'u wone apa? agu sama ba cara pande? 'Kek, apa yang menjadi bahan dasar untuk pembuatan perangkap tikus ini'? dan bagaimana cara membuatnya? (aku bertanya). ko bahan gia raza ko nggoes,. puu wone pring, ko pande gia pake sulan.'Bahannya sangat mudah yaitu, dari bila bambu dan prosesnya dianyam'. Itulah kita, lebih memilih menjadi perangkap, daripada menjadi tikusnya. Jangan pernah menjadi tikusny...hhhhh.(Sahut kakek yang bijak dalam imjinasi dan tidakan)
"Pembuatan penggo 'perangkap tikus' ini adalah tradisi yang diwariskan secara turun temurun bagi kita, menyambut akan datangnya panen padi, maupun jagung" (Tambah kakek itu).
Sore tak lupa menyapa, pertanda hari akan malam. Kamipun memilih untuk kembali pada pulang. Dalam perjalanan pulang kami disuguhkan fabel yang begitu menggairahkan selera tanpa sadar rumah mengucap selamat datang. Pertanda kami sudah dalam rahmat-Nya.
"Ceritamu belum kami kenali pada mereka yang belum mengenalimu.
Doa kami, namamu dikenal baik dan menjadi tempat sadaran sejarah untuk kami baringkan jiwamu"
Terima kasih kota sejarah "Tedon"... Tetap menyimpan segala rupa harapan hidup.
Nantikan rupa kami yang hidup dari jendela berupa sejarah !!!
Kupang, 25 Maret 2019



Komentar
Posting Komentar