segelas tirta dalam derita
Cerita derita kini menjadi sampah tak bernyawa.
Menumpuk pada sisi sayap teras telingamu.
Melihat pandang pada setitik tirta memeluk ujung ujung gelasmu.
Tanpa melihat bekas tirta yang tertidur di dasar gelas-gelasku.
Kau yang telah memijak pada tirta yang sesungguhnya.
Kau yang mengalirkan tirta di atas tanah kami.
Dan kami upahkan dengan fulus lemburku.
Kini hanya nama yang tertulis di papan berharga itu.
Hilang tanpa berita.
Dan pergi tanpa meninggalkan jejak.
Kapankah kau datang?
Kami membutuhkanmu untuk menghapus keru dalam tirta yang kuminum.
Kini tirtaku datang dalam mobil bergentongkan barbel.
Tanpa kami tau, sumber tirta gentong ini.
Tak ada kepuasaan.
Hanya keru yang terus menderu di bibir gelasku..
Di atas kursi berkaki api.
Kau membutakan matamu.
Kau menulikan telingamu.
Namun mata dan telingamu melihat dan mendengar. Apa yang kami cari dan apa yang kami bisik pada jejak langakahmu.
Oleh : OnsiGN99
Kupang, 2019
Cerita derita kini menjadi sampah tak bernyawa.
Menumpuk pada sisi sayap teras telingamu.
Melihat pandang pada setitik tirta memeluk ujung ujung gelasmu.
Tanpa melihat bekas tirta yang tertidur di dasar gelas-gelasku.
Kau yang telah memijak pada tirta yang sesungguhnya.
Kau yang mengalirkan tirta di atas tanah kami.
Dan kami upahkan dengan fulus lemburku.
Kini hanya nama yang tertulis di papan berharga itu.
Hilang tanpa berita.
Dan pergi tanpa meninggalkan jejak.
Kapankah kau datang?
Kami membutuhkanmu untuk menghapus keru dalam tirta yang kuminum.
Kini tirtaku datang dalam mobil bergentongkan barbel.
Tanpa kami tau, sumber tirta gentong ini.
Tak ada kepuasaan.
Hanya keru yang terus menderu di bibir gelasku..
Di atas kursi berkaki api.
Kau membutakan matamu.
Kau menulikan telingamu.
Namun mata dan telingamu melihat dan mendengar. Apa yang kami cari dan apa yang kami bisik pada jejak langakahmu.
Oleh : OnsiGN99
Kupang, 2019


Komentar
Posting Komentar