MENANTI JANJI

                       Oleh : Onsi Nggadung


Sore itu aku kembali pada jalan prioritasku, yaitu kampus.

Di dalam langkah yang mengukir pada setapak, aku mengigat bahwa hari ini adalah hari dimana aku harus mengungkapkan perasaanku pada seorang gadis semester denganku. Yahh pasti setiap manusia pernah jatuh pada cinta. Pernah dicintai, pun mencintai. Jika demikian aku adalah termasuk manusia yang sukses. Yahh sukses mencintainya..

 Tanpa disadari, aku mendengar suara yang tak asing di telingaku. Suara itu?? Itu adalah suara dia ( sambil mendekati pemilik suara)..
Selamat pagi Ca.. (Aku sering memanggilnya Bica) Sapaku.
Pagi juga Ndan. (Dan dia juga sering memanggilku Komandan).

Yahh mungkin komandan dalam dirinya..

Disaat itu, lempar kata dan senyum kini menghiasi langkah, melewati tangga di sudut ruang kelas.

Tanpa ada goresan dalam pikirannya, bahwa sebentar lagi ada seseorang yang akan menyatakan cinta padanya..

Sesampai di ruangan kelas, sahabat seangkatan sudah memenuhi lorong di depan pintu kelas.. Tanpa menunggu lama, aku memberi bisikan padanya.."Ada yang perlu saya sampaikan"..
Iaa katakan saja. (Jawabnya dengan penuh ketulusan)

Diasaat itu aku merasa dingin dalam kepanasan.. Aduhh rasa gugup kini melintang dan memeluk Padaku. Apa yang harus aku katakan??..
Aku merasa lengan bajuku sedikit menggetar..

Pasti setiap orang pernah merasakan apa yang saya rasakan. Rasa gugup yang melampaui semua rasa, terkadang memberi arti kadang juga tak meberi arti.

Walau rasa gugup dan dingin dalam kepanasan menghianatiku. Tetap saja aku katakan apa yang akan saya katakan padanya  (BICA).
Aku mengambil kedua tangannya, lalu mengungkapkan seribu rasa dan alasan mengapa aku jatuh pada senyuman cintanya.

Disaat itu, aku merasa keanehan, disaat aku melihat wajahnya dilumuri air mata.Apakah ini memberi arti, bahwa rasanya dan rasaku tak sama?? Heyy mengapa kau menangis?? (tanyaku sambil mengusap air mata yang kini berlinang dipipinya).
Maafkan aku. Jika kedatang rasaku ini membentur jendela rasamu. ( Tambahku)
Bukan begitu Ndan. Tapi berikan aku waktu tiga puluh hari, satu minggu. Dan jika waktu yang sudah aku tentukan ini, telah kupijaki, pasti aku akan menjawab prihal rasamu itu. (Jawabnya sambil meninggalkanku).

Dalam nada rasa, aku hanya menerima keputusannya tanpa sesikit merasa keberatan..

Hari telah berarti dan terus berganti. Pagi mengantar mentari pada pintu samudera dan membawa hariku pada hari ketiga puluh..
Yesss Akirnya tiga puluh hari sudah dipijaknya.. Kini tuju hari lagi terus kutunggu..

teeettttttttTT... Ponselku berdering. Pertanda ada sebingkis pesan.

Tanpa menunggu lama akupun membuka pesan itu dengan penuh rasa penasaran. Karena pesan itu langsung dari Bica..
"Maafkan saya ndan.. bahwa nyata janjiku telah aku titip. Bahwa tiga puluh hari, satu minggu aku menjawab apa yang kau rasa. Tapi di hari ketiga puluh ini, aku mengatakan aku tidak bisa.. Intinya rasaku dan rasamu tak sama...


Apalah artinya aku menunggu???
Dimanakah janjimu??
Tiga puluh hari satu minggu adalah HAMPA..

Jika rasamu tak sama dengan rasaku. Mengapa kau tak mengutip pada hari dimana aku menyatakan semuannya ini??
Cinta adalah cinta. Dia tak mati, tuli, maupun buta. Tapi yang mati, tuli, dan buta, itu adalah rasa yang tak mampu memikul cinta..

Aku kembali menuju lorong kelasku sambil memikirkan cara melumpuhkan rasa, membunuh rindu, menanti janji..


Jangan kau lumpuhkan rasa itu.
Jangan pernah kau mebunuh rindu itu.
Jangan kau menanti disetiap janji itu.

yang kau lakukan adalah MENINGGALKAN..

(Kata terakhir yang bisa kudengar dari bisikan hati.....)

Cintai suara hatimu.........yang membawamu pada nadi-nadi  KEBAHAGIAAN..







Kupang, 25 Agustus 2019..

Komentar

  1. Lain kali, jangan sekali kali percaya pada waktu. Dia, cinta dan patah hati itu bersahabat. Jika kau memutuskan untuk mencintai pada suatu waktu, maka kau akan merasakan patah hati pada waktu tersebut juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu tidaklah salah dalam hal ini. Tapi dia dan aku yang mempersalahkan waktu. Jadi, saya mengerti, jangan sering menyalahkan waktu. Tapi gunakan waktu serahmat mungkin.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer