Mereka adalah saudaraku
Bumi kejam melantarkan senyum pada dinding kota.
Kata adil kini tak lagi menghantuinya.
Kejam malam lumpuhkan harapan.
Mereka bukan siapa-siapa.
cerita hidup pilu berlalu.
Dalam harap tak ada yang melantarkanmu.
Dalam kagum kau tak tau.
Apa arti hari esok bagimu.
Pipit putih memberi arti dalam gemilang siangmu.
Tanpa tawa dalam indah namamu.
Kini tak ada lagi selimut penghangat dingin harimu.
kini seribu lilin aku nyalakan.
Dalam doa kuucapkan nada cinta.
Kemanakah pijakmu?
Air mata emasmu kini mengalir.
membasahi kening penghening tidurmu.
Ketika kau kata diasingkan.
Bumi kejam melantarkan senyum pada dinding kota.
Kata adil kini tak lagi menghantuinya.
Kejam malam lumpuhkan harapan.
Mereka bukan siapa-siapa.
cerita hidup pilu berlalu.
Dalam harap tak ada yang melantarkanmu.
Dalam kagum kau tak tau.
Apa arti hari esok bagimu.
Pipit putih memberi arti dalam gemilang siangmu.
Tanpa tawa dalam indah namamu.
Kini tak ada lagi selimut penghangat dingin harimu.
kini seribu lilin aku nyalakan.
Dalam doa kuucapkan nada cinta.
Kemanakah pijakmu?
Air mata emasmu kini mengalir.
membasahi kening penghening tidurmu.
Ketika kau kata diasingkan.
Mereka adalah napas yang punya raga.
Mereka adalah elang mencari arah.
Bawalah dia pada pangkuan kasih tanpa diskriminasi.
Jangan lantarkan suara mereka.
Ceritakan pada mereka apa yang pantas kau ceritakan.
Bukan melantarkan pada lorong berkata hampa.
Kaki odha pantas kau lumpuhkan.
Tapi tolong jangan orangnya.
Mereka adalah elang mencari arah.
Bawalah dia pada pangkuan kasih tanpa diskriminasi.
Jangan lantarkan suara mereka.
Ceritakan pada mereka apa yang pantas kau ceritakan.
Bukan melantarkan pada lorong berkata hampa.
Kaki odha pantas kau lumpuhkan.
Tapi tolong jangan orangnya.


Komentar
Posting Komentar