Di Perpustakaan Sastra
                     Oleh : Onsi GN

    Setiba mentari sapa pada bumi akupun berlayar teduh di bawah sinarnya menuju tempat peraduan. Pagi itu, aku bejalan hampa di sudut kelas tanpa suara. Ditemani sepi yang seakan mencekik membuatku terjebak dalam godaannya. Pagipun semakin kejam, aku yang bersandar di kursi tua seakan melukiskan  kata prihal rindu. Pagi terus menanti, mentari berlayar kencang, angkasa pesta raya melenyapkan kabut ketika mentari perlahan menyinsing. Ruangan kelas itu mulai terisi, banyak mahasiswa yang berdatangan sambil bergandengan tangan membuatku ragu untuk sapa. Jam dan menit terus melangkah sebagian  ruangan kelas sudah memulai proses perkuliahan. Dan disaat itu juga aku mengokohkan niat untuk ke perpustakaan. Di dalam langkah mengukir setapak aku berjalan di lorong yang kini sudah dipadati mahasiswa baru. Rasanya tidak bisa melangkah apabila seluruh  mahasiswa jurusan memenuhi lorong ini.
    setiba aku di perpustakaan aku melihat di penghujung ruangan itu ada setumpuk buku dan selembar koran yang kini tersisip di tengah rak tua beralaskan kaca.  Tanpa salam aku berjalan tergesah-gesah melewati lorong demi lorong ruangan itu. Sesampai di ujung ruangan itu, aku kembali dipertemukan selembar koran dan setumpuk buku bersampul biru yang kini meracuni nalarku agar segera aku bacakan. Rasa penasaranpun kembali meracuni hati. Mengapa aku tak bisa berpindah dan memilah pada buku yang lain? Mengapa hanya tertuju pada buku bersampul biru ini?? Yang pastinya ini perpustakaan sastra, dan pastinya buku-buku yang ada di dalam ruangan ini adalah buku tentang nadi kehidupan bahasa dan sastra itu sendiri, buku tentang penyair maupun karya ilmiah. Tidak salah jika aku mengambil buku ini untuk aku baca. (sambil mengambil buku yang bersampul biru itu). Aku harus membaca buku ini. Tapi dimana? Semua meja dan kursi sudah terisikan, aku harus mencari tempat yang masih tersedia tentunya. Ohh disini saja. Di bagian belakang rak buku yang diapiti tembok pembatas. Sebelum aku membuka halaman demi halaman, aku terbius dengan judul yang terpampang di bagian sampul.
"Aku dan puisi menyimpan janji".
Ini adalah buku yang sudah sekian lama aku cari. Selain aku cinta pada puisi tentu aku juga cinta para penyair yang telah menggoreskan cerita batin dalam kepuitisannya, yang kini menjadi samudera larik untuk dijadikan pedoman dan menjadi nadi hidup bagi masyarakat sastra maupun nadi kasih yang mencintainya..
Bagi anak sastra, perpustakaan sastra adalah napas hidup untuk diembuskan bagi pedoman hidup.
                        ☆☆☆
Satu jam di tempat itu tak ada bedanya.  Sementara aku bersua dengan sebait puisi dan segelas kopi, aku melihat mahasiswi yang kebingungan di samping rak, tempat karya ilmiah mahasiswa. Dengan rasa kasihan aku mendekati mahasiswi tersebut. Selamat pagi..Ada yang bisa saya bantu?? Aku memberi tawaran tanpa ditawarkan olehnya....
Selamat pagi juga.. Iaa kak, saya ditugaskan untuk mencari buku kumpulan puisi dan pengkajiannya. Saya belum mengenal keadaan dan penyusunan buku rak demi rak. Karena saya Mahasiswa baru disini kak.. Jam demi jam, aku habiskan waktu untuk mengenalkan perpustakaan sastra itu padanya. Dan akupun menunjukan buku sebagaimana buki yang dia cari. Terima kasih kak atas bantuannya... Sama-sama adik. Benarkah dia mahasiswa baru disini?? Jika ia, aku tidak boleh jatuh pada rasa yang sebenarnya. Yang intinya, aku hanya menjaga dan membantu sebagaimana aku menunjukan kakak yang menjadi senior dan dijadikan teladan bagi mereka. Itu sudah cukup dan terpelajar tentunya....
Aku berpikir “Jika berbicara tentang rasa mungkin  hanya pandangan yang tak melewati gerbang pemabatas yang dibatasi”
Keesokan harinya aku kembali pada tempat yang sama, karena jam perkuliahan belum mulai. Pada pintu perpustakaan itu, aku melihat mahasiswa baru yang kemarin sempat kubantu membuka halaman demi halaman buku dan ditemani tumpukan buku serta sebotol air yang setia menanti. Apakah aku harus kesana? Jangan..Jangan.. Dan jika saya kesana, mungkin dia merasa terganggu. Akupun mengambil buku pada rak bagian timur lalu membaca sambil membelakanginya.
                          ☆☆☆
Sorepun menoleh melantarkan petang sambil memanggil malam untuk menidurkan seisi bumi tetapi aku tetap berada di dalam perpustakaan itu. Banyak kisah inspirasi yang meracuniku sambil membius agar aku tetap di bertahan tempat itu. Sorepun telah usai aku harus segera pulang. Akupun menyimpan kembali buku yang sudah aku bacakan itu sambil merapikannya dan meninggalkan perpustakaan itu. karena bulan telah berlayar dan bintang sudah penuhi angkasa. Akupun melangkah pulang sambil meninggalkan jejak yang sepatutnya ditinggalkan.
Namun dengan adanya mahasiswi itu, aku selalu mengunjungi perpustakaan sastra itu dengan harapan melihat sosok MABA yang tak sempat mengenal pada nama, namun tak dilupakan oleh mata.







Komentar

Postingan Populer