Alasan Dalam Dahaga Rindu
                     (PULANG)

                  Oleh : Onsi GN

Desember mengetuk pintu rindu di balik suapan janji untuk kembali.

Terompet sapa dalam bahasa yang ragam mengingat pulang pada tanah janji. Yahh ketika membuka pintu desember banyak kisah yang pasti dilantunkan. Namun ketika itu diranjangnya.
Itu sangat berbeda ketika kita membukanya dari kejauhan, rasa tak terukur gelisah.
Apalagi ketika lonceng natal menyapa namun kita belum kembali pada tanah janji.

Suatu kisah yang sangat berharga memasuki desember pada pelukan tanah yang dijanjikan adalah saling mengetuk, dalam ragamnya suku dan bahasanya. Sangat disayangkan ketika desember tahun ini kita tak kembali pada tanah janji yang menjadi pertiwi dalam mahkota diri.
Tanah janjimu sangat bercahaya ketika sapa salam membekas pada jemari dan ciuman hangat membekas pada sapu tangan pipi.
Rongsokan cerita kembali mengasah dalam dongeng pengantar tidur yang membawa pada kelelapan sambil menanti kedatangannya.

Desember terus menua dan tak pernah terlepas dari harapan penantian. 

Sore kembali bersemi pada sepotong hari. Di ujung tanjung kembali aku merenung "aku dan tanah janji tak pernah berpisah". Aku berdiri di sini bukan tanda melarikan diri dari janji tapi aku sepenuhnya mengejar janji-janji yang menjeritkan tanah janji".

Aku kembali berjalan menyusuri pantai sambil melihat karang yang menentang pada gelombang, bukan karena tidak menyukai namun karena tak bisa menahan dilukai. Sampan tua yang berhenti berlayar menjadi sandaran sesaat sambil merindukan hujan desember di tanah janji.

Niat setiap orang pasti sama. Ingin kembali pada pertiwi yang kini menjadi tanah janji.
Tak mudah bagi seseorang untuk menerima walau akhirnya diterima dalam meninggalkan seuntai sapa salam dari tawa.
Sore semakin larut. Membuat malam tiba dalam tanda tanya.
laut bersorak-sorak dalam butir ketidakpastian seakan bertanya "Apa yang terjadi ?"
Dengan tak bisa mengartikan kode,
Sembari aku melukiskan tanya itu pada selembar kisah yang mungkin bisa diceritakan pada samudera lelapmu.

"Ketika embun melumpuhkan debu pagar itu.
Seketika angkasa menyembunyikan luka di balik tawa.
Melihat duka luka bibir kota
Retak tak beratap.
Seribu isyarat terus mengalir
Mengikis bola mata hidup yang semakin mengatup.
Tualah sudah isyarat itu.
Hari menjadi album iringan
Menyanyikan lagu sambil menderu
Tak melihat seribu retak sejuta luka
Kaku terbawa iringan waktu
Luka retak terus menanah
Mengalir kaku di karang juang
Melihat canda kini lupa
Siapa yang mengartikan
Dan apa artinya.
Desemberku memungut tanya dalam serpihan itu
sambik melihat persoalan nyata pada pulang".


Ceritakan pada samuderamu dan jangan lupa pada tanah janjimu.





Komentar

Postingan Populer