OPINI



   Ketika Milenial Menulis: Literasi Tanggung Jawab Siapa?


Ket: Foto.Istimewa


Rasanya sangat luar biasa ketika Milenial Menulis tentang dunia literasi dengan melihat dampak dari literasi yang lahir dari kegagalan-kegagalan tersendiri.


Literasi Masa Kini


Menjadi persoalan yang sangat mengkhawatirkan dan menjadikan sebuah keterlupaan. Hemat saya, kita akan semakin menghadapi persoalan yang sama ketika kita meninggalkan literasi dalam mencari butir-butir solusi.  Dalam dunia yang banyak serba, menuntut kita untuk berpikir kritis sebagai salah satu tindakan agar jauh dari metafora-metafora krisis. Dalam berliterasi kita dituntut untuk tidak mengartikan literasi hanya berfokus pada satu media saja yaitu buku. Namun yang lebih menarik mengartikan  literasi  ketika kita membaca, menulis, menyimak, Berbicara, dan mendengar. Tentu yang paling diutamakan adalah aspek membaca. Entah itu membaca buku ataupun membaca diri serta membaca keadaan.

Milenial sekarang ini sangat keliru ketika tidak menghidupkan literasi di dalam dirinya.

Mungkin mereka mengatakan, saya tidak membaca, bukan urusan anda” tentu ini menjadi persoalan yang panjang dan tak akan menemui titik Penghujung dari persoalan itu. Hemat saya ketika pribadi Milenial menanam dan merawat bibit literasi di dalam dirinya, maka Indonesia tak lagi gagap dalam dunia literasi.


Perlukah Literasi di Indonesia?


Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Untuk merubah keadaan itu, saat ini pemerintah khususnya Kemendikbud sedang menumbuhkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Hemat saya, mungkin Kemendikbud tahu, pil yang ampuh untuk mengobati keadaan tersebut adalah kebijakan GLS tersebut. Terlepas dari itu, kita harus membangkitkan secara individual, daya pikir yang berintegritas dalam kemalangan literasi sekarang ini.


Hemat saya, literasi di Indonesia sangat perlu dan tokoh utama yang menjadi penggerak adalah milenial. Sebab jiwa negara ini akan menghinggapi tangan-tangan milenial yang patut didorong untuk kemajuan-kemajuan negara serta kemajuan-kemajuan pribadi yang berintelektual. 



Dukungan Pemerintah


Dari berbagai cara yang bisa dilihat dan bisa dirasakan oleh berbagai pihak, tentu atas terdepannya dukungan pemerintah saat ini menghadapi ketertinggalan dalam hal literasi baik mendirikan perpustakaan-perpustakaan daerah maupun bentuk kerja sama lainnya.

Hemat saya, keseriusan pemerintah dalam menghidupkan rambu-rambu literasi sangat dirasakan oleh sebagian besar saja. Namun sebagian kecilnya belum tahu butir-butir keseriusan itu. Perpustakaan-perpustakaan daerah perlu menyiapkan fasilitas yang mumpuni karena perkembangan literasi tidak terlepas dari fasilitas-fasilitas yang ada. Peran pemerintah tidak terlepas juga mengevaluasi program kerja dengan rangka kerja bersosialisasi di daerah yang saat ini belum dijangkau oleh apa pun. Hemat saya, jika ini dilakukan berkali-kali tingkat kematangan literasi di negara kita akan lebih terobati dan akan membaik.


Jiwa Literasi


Literasi sangat penting dalam diri seseorang. Maka, tidak ada yang namanya salah jika milenial-milenial mengembangkan ide-ide yang lahir dari jiwa-jiwa literasi itu sendiri.

Hemat saya, literasi baca-tulis paling diutamakan dalam diri Milenial.

Sebab, literasi di Indonesia adalah tanggung jawab Milenial sebagai tokoh utama dan akan ada perhatian penuh dari lembaga-lembaga terkait dan itu harus dijunjung.



Onsi GN adalah Mahasiswa Universitas Nusa Cendana.  Prodi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia





Komentar

Postingan Populer