Suara Mahasiswa

 Satu Semester Berakhir dalam Situasi Pandemi. Mahasiswa : “Kami Baru Saja Melewati Neraka”

                         Oleh : Onsi GN

   Situasi Pandemi menggambarkan pembelajaran daring membuat semuanya harus beraktivitas dari rumah. Kebijakan-kebijakan mulai diterapkan agar secara sadar  memutus tali penyebaran virus Corona.

Di Indonesia sendiri kebijakan yang paling ditakutkan adalah mahasiswa diharuskan belajar dari rumah dan itu berlaku dari Sabang sampai Merauke. Sebagai warga negara yang baik, kebijakan  itu tentunya tidak bisa ditolak namun harus diindahkan demi kenyamanan dan kebaikan bersama. Pembelajaran dilakukan secara daring tanpa melihat mampu dan tidak mampunya yang pasti harus melakukannya.


Perdana yang Penuh Tanya

Pembelajaran secara daring tentu tidak pernah dilakukan sebelumnya namun dengan secara serentak semuanya harus melakukan dan harus bisa.

Hemat saya, pembelajaran secara daring tidak seakurat pembelajaran secara langsung atau tatap muka. Daring menuntut kita harus bisa dengan segala banyak iringan yang tak ringan dan tanpa ada percobaan. Semua tentunya tidak mau aktivitas perkuliahan dilakukan secara daring. Namun dengan kondisi bumi yang dijajah Pandemi tentu semua harus menerima dengan penuh keragu-raguan. 


Apa Kata Mahasiswa?

“Kami baru saja melewati neraka” . Dengan berakhirnya satu semester dalam situasi Pandemi tentunya tidak mudah bagi mahasiswa melewatinya.

Hemat saya, pernyataan tersebut adalah bentuk dari kerasnya rintangan dalam pembelajaran daring. Kita bisa menyebutkan rintangan itu tanpa harus diambil dari dalam diri mahasiswa namun diambil dari faktor pendukung pembelajaran tersebut. Yang pertama, adalah koneksi yang kadang membuat kita terinfeksi emosi dan berujung pupus solusi. Yang kedua, data internet yang kadang membebankan mahasiswa dan ini tanpa ada pembebasan. Yang ketiga, alat penghubung sebagai media (Handphone).

Hemat saya dalam situasi pembelajaran daring, tidak ada yang bertanya apakah anda memiliki itu semua??

Semuanya berfokus pada jalannya pembelajaran tanpa pernah merefleksikan alat penunjang yang bisa mencapai hasil tujuan pembelajaran. Namun dengan berakhirnya satu semester dalam situasi pembelajaran daring, maka banyak mahasiswa yang mengatakan kami baru saja melewati neraka yang berpagarkan kehancuran.

Hemat saya, pernyataan tersebut menggambarkan mahasiswa dengan segala kegigihannya berjuang melewati kehancuran itu. Tidak salah jika banyak yang jatuh karena keadaan dan banyak yang berhasil karena terpaksa memenuhi kebutuhan yang tak pernah ditanya itu.


Peran Pemerintah

Pemerintah harus lebih memperhatikan secara sadar dampak dari pembelajaran secara daring ini.

Hemat saya, pemerintah di sini sebagai garda terdepan ketika pembelajaran secara daring ini dikiblatkan. Perhatikan masalah adalah sebuah keseriusan yang tentunya harus diperhatikan secara bertahap.

Hemat saya, masalah yang sering dirasakan ketika pembelajaran secara daring yaitu pemahaman rendah, koneksi internet yang masih sulit, kurangnya minat belajar dan tentunya perlu perhatian khusus dari pihak yang terkait agar meminimalkan masalah-masalah yang ada dan yang akan ada.

Atas pandangan itu pula, tentu yang merasakan kesulitan dalam belajar adalah mahasiswa itu sendiri. Bayangkan mahasiswa harus mempertaruhkan ketelitiannya agar tidak salah dalam menyikapi pembelajaran itu. Kerugian jelas ada tanpa dicari-cari namun peran pemerintah dalam menunjang keberhasilan proses ini sedikit dalam keseriusan dan banyak memberi arahan agar tetap belajar dari rumah tanpa melihat keadaan yang mestinya. 


Peran Kampus

Tentu peran Kampus sangat penting dalam kehidupan pembelajaran daring baik mengecek keadaan dalam proses maupun membantu titik-titik berat yang dihadapi mahasiswa ketika berhadapan dengan kuliah daring. Tentu kampus tahu kekuatan  dan kelemahan dari pembelajaran yang dilakukan secara daring ini. Sedikit memaparkan bahwa kuliah daring mempunyai kekuatan tersendiri namun lebih bahayanya lagi mempunyai kelemahan yang menyayat daya juang mahasiswa. Tergantung pada internet, adanya mata kuliah yang tidak bisa dilakukan secara daring, harus membutuhkan biaya yang sangat besar. 

Hemat saya, peran Kampus sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas perkuliahan daring ini tentu harus sangat tinggi. Harus melihat secara langsung keadaan di lapangan, apakah benar-benar mengikuti? Ataukah memang tidak bisa mengikuti? Jika memang keadaan mengatakan kita melakukan ini secara terpaksa baiknya dihentikan pembelajaran daring ini daripada membiarkan mahasiswa melewati panasnya Neraka dengan tangan terbuka sedangkan jalan lain masih ada tanpa ada luka maupun sengatan yang berakhir panjang.


Komentar

Postingan Populer